Saturday, 10 October 2020

Safi Age Defy Cream Cleanser Deep Moisturizing Yang Ampuh Mencerahkan Wajah Kusam

 



 

Wajah kusam memang membuat seseorang malas berkaca. Iya nggak sih? Apalagi buat cewek, yang namanya berkaca pokoknya harus keliatan cantek. Iya kan? Pokoknya yang salah kacanya kalau pas ngaca wajahnya jadi kusam. Hahaha…..ini mah berlebihan deh…..

Oke…oke….akupun juga begitu. Aku paling malas kalau pas ngaca, kemudian wajah tampak kusam padahal abis  cuci muka. Nah loh gimana ceritanya tuh. Aku pribadi cenderung memiliki jenis kulit yang sensitif, yang mana harus pilah-pilih dalam hal facial wash.

Kalau boleh jujur nih, sebenarnya aku paling susah kalau disuruh milih facial wash. Bukan karna pilih-pilih banget sih, tapi emang wajahku sensitif banget. Tapi dengan mengggunakan Safi age defy cream cleanser, sepertinya wajahku telah menemukan jodohnya. Wajahnya doang yang ketemu jodohnya, orangnya belom.

Mengapa Safi Age Defy  Cream Cleanser Deep Moisturizing Ini Beda?

Awalnya sih aku dulu paling cocok sama facial washnya Naavagreen. Jujur itu enak banget. Nggak bikin kering dan lembut banget di wajah. Tapi semenjak berhenti memakai Naavagreen, aku jadi nyari facial wash yang lembut dan nggak bikin kering.

Rangkaian dari Safy Age Defy ini emang bagus banget. Aku pilih rangkaian Age Defy dari Safi karena emang kondisi kulit yang udah OLD yang memerlukan nutrisi agar tetap awet muda. *Uhuy…





Facial wash ini mengandung trace mineral yang akan membantu memelihara tekstur kulit agar tetap kenyal dan senantiasa halus. Kadang kulit aku tu sensitif, kadang juga kering sih. Jadi pakai Safi Age Defy Cream Cleanser Deep Moisturizer ini cocok banget. Nggak bikin kering setelah cuci muka.


6 Hal Yang Akan Kamu Rasakan Ketika Memutuskan Berhenti Dari Krim Dokter


Kandungan lainnya di sini adalah jenis amino acid yang dapat membantu melindungi kulit dan menjaga kelembabannya. Selain itu juga halus banget deh. Suka banget sama produk ini. Aku sekalinya cocok sama facial wash ya bakal aku puja-puja setinggi langit karena kulitku emang susah nerima facial wash sembarangan.


Review Safi Age Defy Gold Water Essence


Facial wash dari safi ini memang beda karena mengandung bahan-bahan penting lainnya seperti Gold Extract, Silk Protein dan Vitamin C. Tak heran jika sejak pertama kali pemakaian, wajah akan sangat lembut, kenyal, nggak bikin kering dan yang pasti menjaga kelembaban kulit. Makanya cocok banget sama jenis kulitku yang kadang kering dan kadang sensitif.

Di usian yang sudah menginjak ke 30, anti aging sangat penting. Namun banyak yang sudah menggunakan produk anti aging sejak umur di awal 20-an. Semua tergantung jenis kulitnya sih. Kalau kulit kering emang rentan banget muncul garis-garis halus di wajah, jadi solusinya adalah Safi Age Defy Cream Cleanser Deep Moistirizing.

Adakah Kekurangan Dari Produk Safi Age Defy Cream Cleanser Deep Moisturizer?

Kalau menurut aku pribadi sih, sejauh ini bagus. Cocok di kulitku yang cenderung kering-sensitif. Hanya saja kemasannya yang terlalu besar. Harusnya sih ada yang kemasan agak kecil gitu biar mudah dibawa ke mana-mana. Tapi nggak papa deh, yang penting cocok.

Jadi sejauh ini aku masih pakai Safi Age Defy Cream Cleanser Deep Moisturizing dan belum ada niat buat ganti. Kalau aku sih, buat apa gonta-ganti kalau emang udah cocok gitu. Mungkin karna jenis kulitku yang nggak bisa menerima sembarang facial wash jadi kalau udah nemu yang cocok ya nggak bakal ganti lagi.


Jadiiiii…kalian cocok  nggak pakai Safi Age Defy Cream Cleanser ini?

 

 

~MissAnt~

 



Monday, 24 August 2020

Cara Menjalani Hidup Yang Menyenangkan 99% AKURAT

 


 

Setiap hari adalah hal yang baru, kamu bisa memutuskan apa saja yang ingin kamu capai. Kamu juga bisa malas-malasan saja. Semua tergantung diri kamu sendiri. Kalau mau terus-terusan bermimpi, ya lanjutkan saja tidurmu. Kalau mau mengejar mimpi, WAKE UP.

Di usia yang belum cukup dewasa memang sulit memahami diri sendiri. Dewasa juga tidak bisa dilihat dari banyaknya usia, buktinya masih banyak orang yang usianya 40 tahunan dan masih ke kanak-kanakan. Beda dengan anak-anak yang justru berusia 29 hingga 30 an yang cenderung sudah dewasa secara fisik maupun mental.

Kalau dari status yang aku baca, katanya dewasanya mental seseorang justru berasal dari masalah yang mereka hadapi. Bener nggak? Kalau kamu terbiasa dengan berbagai masalah hidup, nanti lama kelamaan kamu juga sudah terbiasa berdamai dan merasa that’s not a problem. Masalah dikatakan masalah jika kamu menyebutnya masalah, kalau kamu tidak menyebutnya masalah, ya bukan masalah. (Pernah dapet kata-kata tersebut entah dari mana).

Yang jadi masalah utama seseorang tidak bahagia adalah membanding-bandingkan kehidupannya dengan orang lain. Dan parahnya, mereka hanya membanding-bandingkan melalui sosial media. Tau sendiri kan, sekarang ini banyak orang yang posting hal-hal yang menarik di sosial media dan membuat orang merasa down lantaran tak bisa melakukannya.

Pola pikir orang-orang tidaklah sama, ada yang mikirnya instan saat itu juga dan ada yang mikirnya panjang. Kamu masuk yang mana nih? Pola pikir pendek atau pola pikir panjang. Mengapa pola pikir itu penting? Karena pola pikir seseorang menentukan bagaimana mereka menjalani hidup. Kalau kamu sering ngeluh dalam hidup meski hanya hal-hal yang sepele, maka pola pikirnya salah.

Jalan hidup setiap orang tidaklah sama. Kita juga tidak pantas untuk membanding-bandingkan. Ingat, Allah sudah menentukan jalan hidup kita bahkan sejak kita dalam kandungan. Semua rejeki, jodoh dan kematian sudah menjadi urusan Allah, jadi tak perlu membanding-banding  hidup dengan orang lain karena memang jalannya beda. Yang diberikan Allah untuk kita adalah yang terbaik. Jadi, malu lah kalau kebanyakan mengeluh.

Meski semuanya sudah diatur, tapi kita tidak boleh pasrah dalam menjalani hidup. Kita berusaha semaksimal mungkin, hasilanya kita serahkan sama Allah. Kalau kamu males-malesan dan hanya mengandalkan, “rezeki sudah ada diatur” tanpa melakukan usaha, YA….BYE….BYE…AJA.

Semua manusia dikasih akal, tinggal bagaimana cara kita menggunakan akal tersebut. Banyak cara yang bisa kita lakukan agar hidup selalu menyenangkan. Tinggal bagaimana cara kita mengelola diri kita sendiri.

Bagaimana sih agar hidup selalu menyenangkan?

Menyenangkan atau tidaknya hidup, sebenarnya hanya diri sendiri kita yang tahu. Sayangnya banyak orang yang pura-pura bahagia agar orang senang melihatnya. Hm…..begini, zaman seperti masih memikirkan kehagiaan orang lain? Are you crazy? Ingat ya? Kita tidak bisa menyenangkan semua orang. Kita tidak bisa memaksa melakukan sesuatu agar orang lain suka sama kita, contonya nih…..sering mentraktir biar temennya banyak, meng-iya-kan perkataan orang yang sebenarnya kita tidak setuju, ngasih duit demi mendapatkan simpati….hahahaha. Orang yang pola pikirnya pendek memang begitu, sekalinya dikasih uang kemudian langsung mengagung-agungkan seolah biar dikasih lagi. Payah banget mentalnya.

Hidup akan lebih menyenangkan jika kita lebih mencintai diri sendiri. Bukan karena egois, mencintai diri sendiri, memprioritaskan diri sendiri bukanlah egois. Kalau kita tidak bisa mencintai dan menyayangi diri sendiri, bagaimana orang lain bisa mencintai kita? Coba pikir deh. Pikir dengan pikiran yang jernih dan bening. Udah belum? Kalau udah, how do you feel? Better, kan?

Kalau  menurutku pribadi, kunci hidup yang menyenangkan itu ada dua, yang pertama, kita harus punya quality time sama Allah. Dan yang kedua, quaily time dengan orang-orang terdekat. Circle pertemanan semakin dewasa akan semakin mengecil, mengapa demikian? Karna pada akhirnya kita hanya butuh orang-orang yang sepaham saja. Yang sefrekuensi saja. Bener nggak?

Setiap orang pasti punya salah satu (atau bahkan lebih) teman yang bisa bikin mereka nyaman karena merasa memiliki obrolan yang menyenangkan dan tidak menjatuhkan. Hal yang salah dari orang-orang yang suka mengeluh adalah karena mereka salah dalam memilih teman sehingga yang terjadi ketika kita down adalah memojokkan, bukan memberik solusi dan support. Sampai di sini paham kan?

Jadi, jika memang seseorang dalam kehidupanmu semakin lama semakin meninggalkanmu, bukan berarti kamu yang salah. Hanya saja Allah menunjukkan mana orang yang tepat untuk kamu. Kalau seorang teman berubah lantaran kamu tidak dapat menyenangkan hatinya, ya sudah silakan pergi. Kebahagiaan diri sendiri lebih penting. Cari orang yang bisa bikin kita nyaman saja. Toh, kalau kita sudah menyerahkan semuanya sama Allah, maka akan dikirimkan orang-orang terbaik yang akan menemani langkah kita.

Allah itu maha baik. Yang sekiranya akan menjauhkan kita dari Allah akan dijauhkan, yang didekatkan yang baik-baik untuk kita. Kuncinya seperti yang sudah aku bilang tadi, quality time sama Allah, minta yang terbaik sama Allah. Berprasangka baik dan mikir yang baik-baik saja. And everything will be okay.

 

~MissAnt~

 

Friday, 21 August 2020

Nengok (Tilik) Yang Berujung NYINYIR

 



Awalnya memang nggak ngeh kalau ternyata Tilik yang dimaksud di sini adalah menjenguk atau yang lebih populer dengan Nengok atau Jenguk. Berhubung sempat trending lantaran salah satu pemeran yang namanya Bu Tejo, akhirnya aku nonton donk. 

Daaan ternyata…..relate banget sama buibu yang suka nyinyir urusan orang lain. Apalagi yang dinyinyirin adalah seorang wanita yang udah kerja tapi nggak nikah-nikah. Hahaha…..pastilah jadi bahan gunjingan. Dikira kaga laku lah….banyak pilihan lah…ini lah…itu lah.

Budaya Tilik atau menjenguk orang sakit memang masih kental di masyarakat yang tinggal di desa. Meski begitu beberapa desa yang sudah agak kota juga masih memiliki budaya ini. Film ini menjadi gambaran yang “ngena” banget khususnya buat Ibu-ibu yang berbondong-bondong ingin mengunjungi warganya yang sedang sakit.

Pas nonton ini aku sih jadi geleng-geleng sendiri dan beberapa kali melontarkan kata, “haha…iya banget”, “hah…emang kampret banget sih Bu Tejo ini”. Pokoknya benar-benar relate banget sama rombongan Ibu-ibu yang kalau Tilik ujung-ujungnya Cuma ngomongin orang. Haha….iya nggak? Ngaku aja deh buibu.

Nggak ngerti lagi deh, ceritanya dibuat mengalir dan natural banget. Pemilihan gaya bahasanya juga pas banget sesuai dengan logat ibu-ibu kalau lagi nyinyir. Bisa bayangin nggak kalau kamu tetanggan sama Bu Tejo sementara kamu masih belum nikah. Hahaha…..abis noh dijulidin.

Setelah nonton film Tilik, aku jadi mikir kalau ternyata di semua kampung atau desa, yang namanya Ibu-Ibu kalau udah kumpul pastinya ngomongin orang. Kalau nggak kebaikan orang yang keburukannya. Pokoknya selalu ada aja yang dijadiin bahan omongan. Yaa….namanya juga hidup. Kalau nggak diomongin ya nggak populer donk?

Pesan tersembunyi dari Film Tilik

1.Tidak semua kabar dari Internet itu benar

Kalau kamu udah nonton, pastinya kamu paham sama adegan  di mana ada Ibu-ibu yang membenarkan omongan Bu Tejo. Kira-kira seperti ini,

Bu Tejo : Kabar seko Internet yo mesti ratau ngapusi. Wong sing gawe Internet ki wong pinter kok. (Kabar dari Internet ya nggak pernah bohong. Yang bikin internet kan orang pinter).

Ibu-Ibu lain yang nanggepin : Lha iyo wong gaweane wong pinter ki mesti bener to yo. (Ya iya kan bikinan orang pinter kan selalu benar).

Dari sini bisa disimpulkan kalau Internet tidak selalu membawa hal baik pada orang yang tinggal di desa. Mereka hanya asal percaya dengan satu sumber saja. Padahal kan berita Internet memang seharusnya disaring kebenarannya dulu. Tapi ya namanya Ibu-ibu, kebanyakan ya langsung percaya aja. Hihi…jadinya ya begitu.

2.Selalu ada “KOMPOR” untuk menyebarkan berita yang kurang benar

Jika salah satu orang menyebarkan berita yang kurang baik, maka akan ada orang lain yang jadi KOMPOR alias si tukang manas-manasin yang akhirnya semakin panas buat dinyinyirin. Yang namanya orang kalau sudah ngegosip, pastinya akan ada yang ikut manas-manasin biar semakin banyak orang percaya. Kalau nggak percaya, coba liat lagi adegan di bak truk selama perjalanan Tilik, ada aja orang yang bikin Bu Tejo semakin ngomongin si Dian.

3.Keroyokan selalu menang

Ya meski Cuma film, tapi aku gemes banget sama adegan di mana Bu Tejo dan Yu Ning adu mulu dan akhirnya nggak tau kalau kena tilang polisi. Dan apa yang terjadi? Pak polisi malah dikoroyok sama Ibu-Ibu. Pak polisinya kalah sama gerombolan Ibu-ibu yang sebenarnya salah. Mungkin mereka berfikir kalau dengan cara gerombolan seperti itu akan selalu menang meski salah di mata hukum.

4.Muka sok manis di depan orang yang sudah dinyinyirin

Orang kalau sudah ngomongin orang, pasti akan bermuka lebih manis di depan orang yang sudah diomongin tersebut. Liat sendiri kan Bu Tejo saat ketemu Dian di Rumah Sakit itu, ya begitulah. Sok tanya baik-baik pada di belakang Dian nyinyirnya udah kebangetan banget. Begitulah kalau orang sudah julid. Nggak ada obatnya.

Film ini mampu menguras emosi terutama kalau liat Bu Tejo dengan segala gaya khas kalau nyinyirin orang. Belum lagi cara pamer gelangnya. Haha…sumpah bisa banget gayanya senyebelin itu. Btw, yang bikin aku penasaran, sebenarnya siapa bapak-bapak yang ada di mobil sama Dian itu? Masa pak Lurah? Kan bu Lurah katanya single parent dan hidup sama anak lelakinya (Fikri) yang deket sama Dian.

Jadi bapak-bapak itu siapa? Jangan-jangan malah pak Tejo? Kalau beneran pak Tejo. Kagak kebanyang deh gimana nasib Dian di kampung itu, jadi istri muda pak Tejo dan bakal dinyinyirin seumur hidupnya sama Bu Tejo and the gank. Hahaaaa…….

 

~MissAnt~

 

Gimana Sih Caranya Agar Mental Semakin Sehat?No More SAMBAT


 

Apakah kebanyakan sambat pertanda kalau kesehatan mental kurang sehat? Btw sambai itu bahasa jawa yak, kalau dalam bahasa Indonesia sama dengan ngeluh (mengeluh).

 

Ah….koe kakean sambat (Bahasa Jawa)

Ah….kamu kebanyakan ngeluh (Bahasa Indonesia)

 

Kira-kira begitu. Tapi lebih enak menggunakan kata sambat deh. Soalnya lebih loosssss. Haha….

Di luar sana kita pastinya sering mendengar keluhan-keluhan yang sebenarnya sepele, tapi dibesar-besarkan. Emangnya dia doang yang punya masalah hingga seluruh jagad sosmed harus tau? Setiap orang pasti punya masalah kok, hanya saja kadar keluhannya saja yang membedakannya.

Adalah wajar jika kamu mengeluh. It’s okay. Namanya manusia,kalau nggak ngeluh ya kurang puas. Aku juga begitu, kadang ya sambat. Tapi nggak kebanyakan sambat. Karna kebanyakan sambat juga bakal bikin mental kamu nggak sehat.

Kesehatan mental ternyata juga memperngaruhi kesehatan fisik seseorang loh (pernah baca). Jadi, jika mental kita sehat, Insya Allah fisik kita juga sehat. Menjaga kesehatan mental tentu sangat mudah. Nggak mahal dan siapapun bisa melakukannya.

Jadi, bagaimana cara menjaga kesehatan mental?

1.Mendekatkan diri kepada Allah

Intinya, selama kamu dekat sama sang pencipta, seberat apapun masalah yang kamu alami akan baik-baik saja. Percaya sama Allah kalau kita sedang dikasi beban, tentu saja kita sanggup melewatinya. Allah tidak akan membebani seseorang jika orang tersebut tidak sanggup. Kalau kita merasa diberi masalah, artinya kita  bisa melewatinya. Makanya, deketin Allah, minta apa saja. Insya Allah diberi kemudahan.

2.Hindari banyak sambat

Katanya, orang yang mengeluhkan hal-hal sepele itu akan berpengaruh terhadap kesehatan mental. Mulai sekarang coba belajar untuk legowo. Kebanyakan sambat juga hanya memberikan energi negatif pada diri yang berujung ke penyakit. Liat aja orang yang jarang sambat meski banyak beban hidup yang ditanggungnya, lebih sehat kan?

3.Perbanyak bersyukur

Yang namanya manusia memang selalu kurang…..kurang dan kurang. Meski sudah mendapatkan apa yang didapatkan, tapi tetap saja ingin lebih dan lebih. Ya….namanya manusia. Wajar sih. Tapi alangkah baiknya kita bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki. Ingat ya, apa yang kita miliki adalah apa yang diinginkan orang lain. Belum tentu orang lain mendapatkan apa yang sudah kita inginkan.

4.Banyakin Dzikir daripada Nyinyir

Semakin ke sini tentunya makin banyak orang yang suka mengomentari kehidupan orang lain. Di satu sisi memang orang nyaman dengan kehidupannya, tapi di sisi lain selalu ada saja orang yang suka mengusik kehidupan kita. Terlalu banyak nyinyir juga bikin mental kamu nggak sehat. Mengapa? Karena kamu terlalu membanding-bandingkan hidup orang lain yang sama sekali nggak ngaruh dengan kehidupanmu. So….banyakin dzikir daripada nyinyir yak.

5.Love yourself

Semua berawal dari diri kita sendiri. Sayangi diri sendiri dulu, kemudian hal-hal positif akan datang menyertai. Nggak percaya? Coba aja. Love yourself first before you love someone else. Mencintai diri sendiri tidaklah sulit dan bukanlah egois. Demi kesehatan mental, priorotaskan diri sendiri dulu.

Hm…..apalagi yak?

Intinya kesehatan mental itu penting dan mampu mempengaruhi pola pikir kita. Kesehatan juga mahal harganya. Kita berhak atas diri kita. Sebisa mungkin jangan menyakiti diri sendiri untuk membahagiakan orang lain karena tidak semua orang suka dengan kita.

 

~MissAnt~

 

 


Wednesday, 29 July 2020

Self Care Is Not Egoist


 

Siapa bilang kalau terlalu peduli terhadap diri sendiri malah dianggap egois? Mungkin beberapa orang masih berpendapat seperti itu. Nyatanya, demi kesehatan mental, kita harus lebih banyak CARE sama diri kita sendiri.


Semakin ke sini, maka semakin sadar kalau hanya diri kita sendiri yang bisa membahagiakan diri sendiri. Kedengaranya memang egois sih, tapi ini realistis. Buat apa punya banyak teman kalau akhirnya hanya akan menjadi beban karena banyak mengeluhkan hal-hal yang tidak pantas untuk dikeluhkan.

Nggak munafik sih, kalau yang namanya mengeluh memang manusiawi asal tidak berlebihan. Saat kita sedang berusaha untuk bersyukur, tentunya akan sangat mengganggu jika banyak orang yang berkeluh kesah dengan hal-hal sepele. Mengeluh boleh saja, asal langsung sama Allah saja. Banyakin berdoa dan mendekatkan diri sama sang pencipta, dijamin hidupmu aman dari keluh kesah yang nggak penting.

Pada akhirnya kita sadar, semakin kita mendekatkan diri sama Allah, maka hati akan semakin tenang. Rasanya mengeluh saja juga sia-sia. Semakin mengeluh maka apa yang kamu keluhkan akan semakin menguasai pikiranmu. Dan akhirnya mendorongmu untuk terus-terusan mengeluh.

Pentingnya CARE sama diri sendiri juga akan berpengaruh terhadap kesehatan. Kalau kita terlalu membanding-bandingkan hidup kita sama orang lain, maka hanya akan membuat diri sendiri semakin terpuruk. Lihat saja, orang yang terlalu membanding-bandingkan dengan kehidupan orang lain, apa mereka bahagia?

Realistis saja lah. Kalau bukan diri kita sendiri, siapa lagi yang bakal peduli sama kita. Toh….hidup akan jauh lebih menyenangkan jika kita tidak berusaha membuat orang lain suka sama kita. Kalau memang suka ya ayo berteman, kalau tidak. Ya tidak masalah.

Hidup bukan soal bagaimana pandangan orang lain terhadap kita, tetapi bagaimana kita memandang dunia dari sisi yang berbeda. Pastikan cara pandang kita adalah yang mampu memberikan dampak-dampak positif terhadap diri kita dan orang-orang yang kita sayangi.

Ingat ya, jangan terbalik. Jangan membahagiakan orang lain dulu baru memikirkan kebahagiaan kita. Tapi CARE sama diri sendiri dulu, maka kamu akan jauh lebih bahagia. Selanjutnya kamu bisa menebarkan kebahagiaan tanpa mengurangi sedikitpun tentang kebahagiaanmu.

So…..first…..Care To YOURSELF. This is not EGOIST, but the way to survive.

 

~MissAnt~

 


Popular Posts