Thursday, 26 March 2020

Tak Ada Yang Baik-Baik Saja Saat Ditinggal Ibu Untuk Selamanya

Sumber Gambar : Google





Buk, Aku kangen banget”


Mungkin itu yang bisa Aku katakan. Rasanya memang nggak enak banget. Emang bener, yang namanya kangen sama orang yang sudah berbeda dunia memang sungguh menyesakkan. Mungkin dulu-dulu aku hanya membacanya saja. Sampai pada akhirnya aku mulai merasakannya sendiri.

Sayangnya masih banya orang yang menganggapnya lebay. Mungkin belum pernah yang namanya ditinggal selama-lamanya oleh ibunya. Ini bukan sekadar ditinggal Ibu pergi arisan maupun pengajian, melainkan Ibu sudah pergi selamanya. Meninggalkan dunia. Dan tidak lagi bisa bertemu. Saat-saat terakhir melihat wajahnya adalah ketika kamu memandikan jenazahnya. Saat kamu menggosok tubuhnya, itulah saat terakhir kamu melihatnya.

Untuk sebuah rasa kangen dan terhadap Ibu yang sudah meninggal, hal ini tidaklah lebay. Kalau kamu memang beranggapan bahwa itu adalah sebuah hal yang membesar-besarkan, maka nantinya kamu akan paham bagaimana rasanya ditinggalkan seorang Ibu untuk selamanya.

Tak ada yang bisa melawan takdir. Andai bisa, Aku ingin Ibuku masih ada dan selalu ada hingga aku benar-benar siap untuk ditinggal. Tapi apakah ada orang yang benar-benar siap ditinggal Ibunya?

Untuk orang yang dekat dengan Ibunya, adalah hal yang sangat terpukul ketika Ibu sudah pergi dan tak akan pernah kembali. Ya mau gimana lagi. Kalau boleh, Aku mau banget nego sama Alloh, “Ya Alloh jangan pernah ambil Ibuku ya, Aku ingin terus bersamanya”. Tapi apakah bisa? Tentu saja tidak bisa. Memangnya Aku ini siapa berani meminta sang pencipta untuk mengambil kembali ciptaannya.

Sungguh, takdir memang tidak ada yang tahu. Sebagai anak Ibu. Aku hanya bisa ikhlas. Kalau Aku nggak ikhlas hanya akan “mengganggu” perjalanan Ibu menghadap Alloh. Katanya begitu. Saat seorang Ibu meninggal dan anak-anaknya terus-terusan menangisinya hingga hari pemakamannya, maka saat itu juga Ibu kesulitan berjalan menuju tempat paling mulia di sisi Alloh. Maka sebagai Anak yang ingin memudahkan jalan Ibu ke sisi-NYA, Aku harus tegar dan ikhlas.

Tak ada orang yang baik-baik saja ketika ditinggalkan oleh Ibu. Ibu adalah separuh nyawa. Ketika Alloh sudah mengambil Ibu, hidupku memang berubah. Berasa ada batu besar yang terikat di kaki. Aku harus bagaimana. Di sisi lain memang hancur banget. Tapi di suatu sisi, Aku harus berjuang melanjutkan kehidupan tanpa Ibu. Entah bagaimana caranya harus bangkit.

Kamu nggak akan pernah tahu rasanya pulang tanpa sambutan Ibu. Benar-benar rapuh ketika sampai rumah dan sudah tidak ada lagi senyuman hangat Ibu. Tak ada lagi teh manis bikinannya. Kalau waktu itu adalah teh manis terakhir yang Ibu buatkan untukku dan untuk terakhir kalinya, Aku akan mengucapkan banyak banyak banyak banyak banyak terima kasih untuk setiap teh manis yang dibuatkan untukku.

Teh manis Kamis malam itu ternyata adalah teh manis terakhir yang dibuatkan untukku. Teh manis yang dibuat dari tangan yang telah mengandung, merawat dan membesarkanku. Bahkan dari perjuangannya Aku bisa ada di dunia ini. Dia pertaruhkan nyawa demi Aku ada di dunia ini. Bahkan tak pernah meninggalkan Aku meski aku dalam keadaan jatuh sekalipun. Hingga Aku sebesar ini, Ibu masih memastikan kalau Aku sudah makan apa belum.

Tak ada orang yang peduli seperti Ibumu peduli denganmu. Tak akan ada yang bisa menggantikan kasih sayang seorang Ibu. Sungguh tidak ada. Setelah Ibu tidak ada, kamu bakalan merasakan. Nggak ada orang yang memastikan apakah kamu baik-baik saja selain Ibumu. Tak ada orang yang mendoakanmu seperti doa Ibu yang tulus.

Dan sekarang kamu harus menjadi orang yang tangguh. Orang yang harus berdamai dengan diri sendiri. Harus menerima kenyataan kalau Ibu sudah tidak berada di dunia yang sama. Berat? Iya berat banget. But....life goes on.

Sampai kapanpun. Benar-benar tak ada yang sebaik Ibu. Aku hanya bisa berdoa sama Alloh, semoga Alloh memberikan tempat baik Indah. Tempat terbaik dari yang paling baik.

Ibu selalu pesan lewat obrolan-obrolannya, “Kamu jadi orang yang baik. Kalau dijahatin orang jangan dibalas jahat. Selalu balas dengan kebaikan. Yang penting itu berbuat baik. Urusan orang jahat sama kamu, itu biar diurus Alloh. Hidup di dunia itu cuma sebentar. Aku cuma pingin nanti kita sekeluarga berkumpul lagi di alam kekal”.

Pesan sederhana yang membuatku perlahan berubah. Terima kasih Ibu, yang selalu mengajarkan tentang kebaikan. Benar-benar kagum dan bangga punya Ibu yang bersahaja. Terima kasih sudah merawat dan membesarkanku hingga Aku ditinggalkan lagi. Insya Alloh segalanya akan baik-baik saja.

Yang paling ingin Aku tanyakan adalah, “Apakah kalau kita rindu sampai nangis dan nyesek terhadap orang yang meninggal, lalu yang meninggal juga melihat kita? Apakah bisa merasakan kalau kita merindukannya?”



~MissAnt~




Popular Posts