Friday, 9 November 2018

6 Pelajaran Yang Diambil Dari Film A Man Called Ahok


Sumber Gambar : Google 

A Man Called Ahok kini memang sedang menjadi perbincangan di jagad sosmed. Sejak kemunculan trailernya, aku udah penasaran dan pingin banget nonton. Hingga akhirnya kemarin, 08 November 2018 aku nonton. Sebelumnya aku beli tiket pas jam makan siang, kirain bakalan ada jam yang lebih awal gitu, nggak taunya hari pertama tanyangnya Cuma jam 18.30 aja. Oiya, aku nontonnya di CGV Hartono Mall Yogya (Harus banget disebutin yak ) karena yang paling dekat ya di situ. 

Dalam film ini, pak Ahok diperankan oleh Daniel Mananta. Film ini bercerita tentang masa kecil Pak Ahok hingga dirinya menjadi seorang pejabat. Jadi nggak ada hubungannya dengan isu yang lagi ramai di jagad sosmed. ( Anak twitter pasti taulah ya ).



Yang menarik dari film ini adalah bagaimana cara ayahnya pak Ahok mendidik anak-anaknya. Sejak kecil pak Ahok sudah didik sangat baik oleh ayahnya. Hal tersebut ternyata membuahkan hasil dengan yang membuat pak Ahok menjadi sosok yang punya prinsip. Tak hanya itu, dalam film ini, kamu bakal disuguhkan dengan keindahan laut Belitung yang bikin pingin main ke sana. Maklumlah, Aku emang suka salfok sama tempatnya.

Selain Daniel Mananta, ada beberapa artis yang yang juga main di film ini, diantaranya adalah :

Eric Febrian sebagai Ahok remaja

Denny Sumargo sebagai Kim Nam (ayah Ahok) masa muda

Chew Kin Wah sebagai Kim Nam masa tua

Jill Gladys sebagai Fifi Lety Tjahaya Purnama (adik Ahok)

Eriska Rein sebagai Ibu Ahok Muda

Sita Nursanti Sebagai Ibu Ahok tua

Edward Akbar sebagai Musyono  (Sahabat Ahok )

Ferry Salim, dan Donny Damara.

Dalam setiap film memang selalu ada nilai pelajaran yang diambil untuk kehidupan sehari-hari. Begitu juga film A man called Ahok. Aku mengambil beberapa pelajaran yang mungkin bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, antara lain:

1.Jadilah orang yang Dermawan.

Film ini mengajarkan bahwa menjadi orang dermawan tidak harus menjadi kaya raya. Seperti ayahnya pak Ahok yang selalu membantu siapa saja yang butuh bantuan. Aku di sini salut sama ayahnya pak Ahok yang tanpa pikir panjang membantu orang yang butuh bantuan. 

"Kalau keluarga kita tercukupi, nggak ada salahnya kita membantu orang yang membutuhkan". Begitulah kira-kira yang diucapkan ayah pak Ahok.

2.Jadilah orang baik.

Tak hanya menjadi orang yang dermawan. Menjadi orang baik juga penting. Meski kita tau sendiri bahwa orang baik tidaklah mudah, ada saja orang yang selalu menjatuhkan. Tapi salut banget sama ayah Ahok yang akhirnya kebaikannya itu turun ke anak-anaknya.

Kalau kita baik sama orang, pada akhirnya orang itu akan selalu ingat kebaikan kita. Seperti dua orang pegawai ayahnya pak Ahok yang selalu ada saat bisnis tambangnya hampir jatuh.

3.Keras kepala belum tentu jahat.

Kalau kamu bener-bener nyimak filnya dari awal sampai akhir, pasti kamu lihat “perang dingin” antara pak Ahok dan ayahnya yang beda pendapat. Meski banyak yang beranggapan kalau karakter Ahok keras kepala, namun dibalik itu semua, beliau berkeinginan untuk menjadi orang yang bisa membanggakan ayahnya dan mengabdi untuk tanah kelahirannya.

4.Jadi pemimpin harus jujur.

Ini nih yang wajib paling dicontoh dalam film ini. Bahwa menjadi pemimpin haruslah jujur. Bisa dilihat sendiri kan, waktu pak Ahok sudah menjadi pejabat, kemudian dimintai tanda tangan serah terima uang perjalanan, padahal kenyataannya tidak ada dinas perjalanan. Itu sama saja sudah mencerminakan pemimpin yang jujur dan tidak korupsi. Patut dicontoh tuh.

5.Tidak lupa teman.

Scene ini muncul saat Ahok kecil sedang bermain dengan teman sebayanya yang bernama Musyono. Saat itu mereka sedang membicarakan cita-cita, kemudian si Musyono berkata, “Ah…nanti pasti kau lupa kalau kau sudah jadi orang besar”. Lalu Ahok kecilpun menjawab, “Ah…dak mungkinlah aku lupa sama kau”.

Pada waktu itu, Musyono kecil juga berkeinginan kalau ia ingin melihat Monas di Jakarta. Akhirnya saat pak Ahok menjadi Gubernur DKI Jakarta, Ia benar-benar mengajak Musyono melihat Monas. Itu membuktikan kalau kekuasan tidak membuat beliau lupa dengan orang terdekatnya.

6.Hidup harus punya prinsip.

Dalam film tersebut, atas permintaan ayahnya, pak Ahok harus menjadi Dokter. Namun hal itu ternyata tidak terjadi lantaran Ahok sudah punya prinsip mau menjadi seperti apa. Dengan prinsip itu akhirnya Ahok sukses berkarir menjadi politikus yang tegas dan jujur.

Yang bikin sedih pada film ini adalah pada saat sebelum film dimulai,  diperlihatkan ketika pak Ahok dinyatakan bersalah pada penistaan agama pada tahun 2017.Masih inget nggak? Ketika para pendukung pak Ahok menyalakan lilin dan itu bikin trenyuh banget.Syediiiiih....

Pada bagian akhir juga ada suara Ibu Veronika yang membacakan surat yang ditulis pak Ahok dari balik jeruji besi. Pokoknya buat kamu yang penasaran dengan kisah masa kecil pak Ahok hingga menjadi politikus yang jujur, mending langsung tonton film ini deh. Mungkin kisahnya akan menjadi inspirasi buat kita.

Kalau kalian sudah nonton dan punya pandangan lain tentang pelajaran yang diambil, boleh langsung share di kolom komentar ya, siapa tau akan semakin membuat banyak orang penasaran untuk melihat sendiri film A man Called Ahok.


~MissAnt~

Popular Posts