Wednesday, 16 October 2019

Apa Yang Membuat Orang Merasa Depresi?


Sumber Gambar : Google 


Terakhir kali nulis soal despresi adalah ketika denger kabar kalau Jonghyun (SHINEE) bunuh diri. Hal ini seolah membuat jagad hiburan Korea berduka. Seolah masih melekat soal kasus bunuh diri dari kalangan akris korea, kemarin anak Kpop juga dikejutkan dengan meninggalnya Sulli (Mantan personel Girlband Fx) yang ditemukan gantung diri di kediamannya. Pas aku baca di twitter, emang beritanya masih banget banget. Banyak pihak yang belum percaya atas meninggalnya Sulli. Hingga akhirnya ada pengumuman penting, Sulli dinyatakan meninggal karna gantung diri (c.m.i.i.w).

Banyak berita beredar kalau Sulli meninggal karena depresi yang sudah parah. Hal ini karena banyak orang yang membullynya. Lalu aku juga baca kalau ia sempat live di akun Instagramnya dan bilang, “mengapa banyak yang membenciku, aku bukan orang jahat. Lalu, apa yang harus aku lakukan agar kalian menyukaiku”. Begitulah kira-kira potongan instagram storiesnya.

Ternyata dampak pembullyan emang gitu banget. Buat yang nggak kuat bisa bikin seseroang mengakhiri hidupnya. Sebenarnya apasih alasan orang membully orang lain? Efeknya buat yang udah membully itu apa gitu loh? Tapi ya emang sih, berdasarkan beberapa artikel yang sudah aku baca, jadi Idol di korea emang harus kuat mental. Pergaulan di sana kayaknya emang tak luput dari kasus pembullyan. Yah....gimana, emang udah budaya kali ya. Tapi kasian kalau sampai benar-benar nggak kuat dan harus mengakhiri hidupnya.

Sejak kemunculan film Joker, sepertinya banyak yang lebih perhatian terhadap kesehatan mental seseorang.  Rame banget di twitter. Banyak sekali yang bikin thread soal kesehatan mental. Belum selesai membahas soal kesehatan mental, lalu ada berita soal kematian Sulli yang diduga bunuh diri lantaran mengalami despresi.

Depresi sebenarnya tidak selalu diderita oleh orang-orang besar seperti Idol Kpop. Mungkin bagi salah satu pecinta kpop dan kdrama, aku sering banget denger kabar kalau banyak artis atau Idol yang ditemukan meninggal karena gantung diri, ada juga yang meninggal karena overdosis obat-obatan.

Semua orang tentunya punya masalah dalam hidupnya. Tinggal bagaimana cara kita dalam mengatasi masalah tersebut. Yang bikin nggak masuk akal adalah ketika putus cinta menjadi depresi terberat bagi seseorang. Sayang banget. Ya mungkin belum cukup dewasa dalam mengatasinya sehingga dirinya merasa tertekan.

Sebenarnya apa yang membuat orang depresi hingga memutuskan untuk bunuh diri? Btw, aku juga pernah nulis penyebab depresi dan cara mengatasinya. Silakan dibaca, siapa tahu berguna buat kamu-kamu yang merasa sedang depresi.

Dari banyaknya lalu lalang temlen twitter yang membahas tentang kesehatan mental, kasus bullying, dan depresi, aku jadi bersyukur banget masih punya teman-teman yang bisa diajak ngobrol enak. Mungkin di luarb sana memang banyak Idol korea yang memiliki fans banyak sekali, sayangnya ada hal yang membuatnya tertekan.

Ya namanya hidup, Cuma sawang sinawang aja. Yang terlihat bahagia banget belum tentu bahagia, dan yang terlhat sedih dan terlihat nggak punya teman juga belum tentu depresi. Semua memang hanya sekedar sawang sinawang sebelum kamu benar-benar menjadi teman-temannya. Kalau aku sih, banyak orang yang bilang aku ini nggak punya teman karena ke mana-mana sendiri. Suka dibilang ansoslah....introvertlah.....hahaha.....but I dont care what other people think of me eh.

Lalu apakah aku sendiri tidak pernah merasa depresi? Tentu pernah. Semenjak Ibuku meninggal, aku memang seperti kehilangan arah. Bingung harus bangaimana dan nggak tahu mau gimana. Rasanya memang seperti kehilangan apa yang sudah ada di depan mata. Iya, ini nggak lebay tapi nyata. Coba bayangkan kalau kamu dekat banget sama Ibumu dan akhirnya Ibumu dipanggil Alloh, padahal kamu paginya masih baik-baik saja. Siapa yang nggak SHOCK? Siapa yang nggak DOWN?

Yang namanya kehilangan ibu memang ada yang kurang. Seperti kehilangan separuh dari diri kita. Yang biasanya, “ Bu...”, mendadak kamu sudah bisa memanggil seperti itu lagi. Kamu hanya bisa menyebutnya dalam doa dan memohonkan ampunan untuknya.
Secara psikologis sih memang aku rada tertekan. Mungkin masih shock banget. Perlahan harus bisa menerima kenyataan kalau Ibu sudah nggak ada. Harus bisa menyambung hidup dan mengejar cita-cita. Lama-lama memang aku sadar kalau semua memang kembali ke Alloh. Hanya saja butuh beberapa waktu untuk membiasakannya.

Yang bikin aku banyak bersyukur, aku masih punya teman yang peduli. Mereka peduli padaku bahkan saat aku jatuh seperti ini. Nggak nyangka banget kalau aku nggak punya teman dan nggak ada yang peduli kondisiku. Terima kasih banyak buat temanku, yang selalu ada saat senang maupun jatuh. Meski tidak sering bertemu, setidaknya kita saling mendukung.

Dari sini aku jadi berpikir, kalau sebenarnya, orang yang sedang “jatuh” dan merasa tertekan hanya membutuhkan seorang pendengar yang baik. Apapun yang mereka keluhkan, cukup dengarkan saja. Setelah dia selesai bercerita, lalu berikan solusi terbaikmu. Terlihat sederhana dan mudah kan? Tapi tidak semua orang bisa. Mungkin di luar sana memang banyak orang yang pandai berbicara ini itu. Tapi tidak semua orang bisa menjadi pendengar yang baik.

Kalau kalian punya teman yang ingin curhat permasalahannya, maka jadilah pendengar yangbaik. Meski tidak banyak solusi yang nantinya bisa kamu berikan, setidaknya dengarkan saja dulu. Itu sudah sangat membantunya. Selamatkan orang-orang dari tekanan dalam hidupnya dengan menjadi pendengar yang baik. Itu saja sudah cukup.
Kalau kalian punya teman yang butuh curhat dan sudah nyaman dengan kalian, maka jadilah tempat yang nyaman baginya. Mungkin kamu nggak bakalan tahu kalau kamu sudah menyelamatkannya dari masalah yang mereka hadapi.

~MissAnt~

Monday, 14 October 2019

(Review) Pengalaman Facial di Naavagreen Jl. Kusuma Negara Yogyakarta

Sumber gambar : Google




Kapan terakhir kali aku facial?


Entahlah kapan. Aku lupa



Mungkin terlalu sibuk atau terlalu nggak peduli ama mukak, jadinya nggak inget terakhir kali facial. Terlebih semenjak aku berhenti pakai krim Naavagreen, setelah itu aku belum facial hingga hari ini Sabtu tanggal 12 Oktober 2019. Hahaa...harus banget ya dijelas sampai hari tanggalnya. Oh iya, biar jelas sekalian. Tadi aku ngantri facial sekitar jam 13.20, dan baru dipanggil masuk ke ruang perawatan jam 14.50 dan mulai eksekuis muka jam 15.000. Selesai facial jam 16.00 an lah pokoknya. Gimana? Kurang detail nggak?

Semakin  ke sini, aku semakin sadar dili kalau ternyata udah lama nggak facial. Memang sih, sebenarnya nggak ada waktu dan sayang duit aja kalau mau facial. Kadang budget buat facial sama dengan budget nonton sama jajan. Hehee.....tapi  aku mendadak sadar sih. Gegara kelamaan ngaca jadi mikir kenapa lama-lama muka jadi kusem dan banyak komedo.

Ternyata kurang perawatan. Bisa dibilang, aku ini nggak kayaka perempuan pada umumnya. Maksudnya, kebanyakan perempuan biasanya paling hobi buat facial. Pokoknya perawatan wajah adalah nomer satu. Ya emang seharusnya begitu sih. Tapi kalau aku engga. Kalau belom kusem-kusem banget belom mau fesyel. Jangan ditiru yak. 

Dampaknya buruk banget ternyata, yaitu menyakitkan. Iya, saking lama banget nggak facial, komedo menumpuk dan wajah jadi kering. Akhinya pas ngebersihin komedo sakit banget. Mau teriak gengsi donk. Masa iya dipencetin komedonya gitu aja nangis. Merintih kesakitan sih iyaaa..... 

Kalau biasanya sih, aku facialnya di Naavagreen Klaten. Kali ini berhubung lagi di Jogja dan ada sedikit waktu luang, jadi aku memutuskan buat facial ke Naavagreen yang di Jl. Kusuma Negara. Pasti udah pada tahu kan tempatnya di mana. Itu yang deket Gembira Loka Jogja.

Pertama kali datang, aku langsung ambi nomer antrian. Kemudian dipanggil dan ditanyai keperluannya apa.

“Mbak saya mau facial”

“Oh iya kak, konsultasi dulu ya”

Lalu aku masuklah ke ruang konsultasi. Aku liat sih dokternya kayaknya baru. Eh...tapi kalau di Naavagree Jl. Kusuma Negara memang dokternya keknya banyak. Kalau di Klaten aku tiap ke sana ya  hanya ketemu 2 dokter. Yang satu pakai hijab dan yang satu enggak. Namanya siapa aku lupa. Ke sana sendiri aja deh ya. Sekedar nanya nama dokternya.

Konsultasi dokter dulu biar tahu jenis facialnya

Pas aku masuk, dokter tanya;

“Gimana mbak?”

“Mau facial, dok”

Kemudian tangan dokter itu mau pegang pipiku,

“Aduh kering banget wajahnya. Kok bisa kering banget, mbak?”

“Iya dok, kering banget. Saya udah nggak pakai krim sini”

“Yaudah nanti facial untuk kulit sensitif ya, jangan lupa minum air putih yang banyak”
“Makasih, dok”

Lah....sambil jalan keluar, aku ngedumel donk. Lha emang selama ini aku kalau minum air putih kurang apa ya? Segalon Cuma tahan 15 hari untuk satu orang emangnya kurang yak? Lalu ke manakah air yang aku minum selama ini? Nggak ngalir ke muka apa ya?

Lalu aku jadi makin ngaca donk. Aku liat-liat mukakku memang kering banget bagian pipi Bahkan kayak mengelupas. Panik donk.....iyalah...secara kan kulitku emang cenderung kulit kering-sensitif, jadinya pakai pelembab juga nggak semuanya cocok. Jadi kudu pilih-pilih hingga aku menemukan pelembab yang tepat. Eh...sebenarnya kalau dibilang cocok sih belum, hanya saja lumayan cocok dan nggak bikin kulit kering. Kira-kira aku pakai 
pelembab apa hayoooo? Tenang, nanti bakalan aku review juga kok. Tunggu yak. Tetep pantenging blogku. Hahaha.....udah kayak beauty blogger belum cara ngomonongnya...eh...nulisnya...

Oke balik lagi ke pengalam facial di Naavagreen Jl. Kusuma Negara.


Baca juga : Hal yang akan dialami ketika berhenti dari krim dokter

Bagaimana pelayanannya?

Jadi, ada suatu tindakan yang sebelumnya belum pernah aku dapatkan kalau facial di Naavagreen Klaten, yaitu semacam ada alat yang katanya mbaknya sih, buat meratakan serum. Jadi, nanti sebelum dipakein masker, akan disuruh pegang kayak kabel yang dilapisi bentuk kayak pulpen, lalu dilapisi tisu yang basah.

Entah gimana cara menjelaskan alat itu karena embaknya pas ditanyain jawabnya agak sengak. Aku tanya begini,

“Mbak itu alat yabg tadi kayak roda yang aku genggam kabelnya tadi namanya apa”
‘Hah”

Kemudian aku ulang lagi pertanyaanku, lalu dia menjawabnya sambil masih pakai masker.

“Ya alat buat meratakan serum ke wajahlah”

Jawabnya sewot dan ngenakin banget. Yaelah, aku nanyak kayak gitu juga sebenarnya mau aku tulis kali. Kalau kayak gini kan jadi suah ngejelasin. Akhirnya malah jadi kena kan? Makanya kalau melayani itu yang baik. Ada etikanya kan? Masih mending mbak-mbak yang mesyel di Naavagreen Klaten. Enak banget orangnya. Ramah. Ditanyain juga enak. Kaga sewot.

Oiya, abis aku tanya kayak gitu tadi, dia langsung bisik-bisik ke temennya, lalu ngeliatin aku sambil ketawa ngece. Dikira aku kagak pernah pakai alat begituan. Ya emang iyalah. Gue mana ngarti begituan. Makanya tadi nanya. Kan situ yang tahu. Makanya kasih jawaban yang tepat donk. Masa  pakai alat begitu kaga tau namanya juga. Kan, LUCUK. Terus ya, pas udah selesai dan aku benerin jilbab, ada salah satu kang fesyel bilang gini,

“Itu lhoo...kan di sana ada kaca”. Katanya sambil nunjukin ruang kecil yang ada kacanya dengan muka yang masih maskeran. Kayak gitu sopan? Nggak bisa nunjukin pakai tangan? Hahaha.....krisis etika yak.

Sebenarnya facial di Naavagreen tu bersih juga mukanya. Tapi kalau liat pelayanannya kayak gitu. Aku nggak bakalan balik lagi deh. Mending cari tempat lain. Biasanya emang aku facial nggak pake serum-seruman gitu. Soalnya facial yang khusus buat kulit normal. Tapi tadi dokter menyarankan kalau aku harus facial khusus untuk kulit sensitive. Jenis maskernya juga beda. Biasanya masker warna putih tapi tadi warnanya kayak kuning-kuning gitu. Mungkin itu buat kulit sensitif kali ya.

Hasilnya....

Tiap orang punya jenis kulit wajah yang berbeda-beda. Dalam memilh tempat facial juga harus jeli banget. Ada yang cocok di tempat A, tapi ada juga yang tidak cocok. Kalau aku selama facial di Naavagreen emang cocok sih. Alhadulillah nggak ada masalah. Aman-aman saja.

Tapi tadi pas facial rasanya kok merah-merah gitu ya? Terutama bagian hidung. Bentuk hidungku kan udah gede bulet, jadi malah kayak tomat. Entah karena udah nggak pake krim Naava lagi atau gimana dah? Atau mungkin karena udah lama nggak fesyel jadinya gini. Kayak ada bruntusan merah sih. Moga Cuma efek kelamaan nggak fesyel aja.

Seiring bertambahnya usia, kulit juga bisa berubah. Aku yang dulunya punya jenis kulit kering-normal, sekarang berubah jadi kering-sensitive. Dan permasalahannya adalah, komedo, kulit kering dan keliatan lebih cepat keriput. Hahaa....tapi semua akan menua pada waktunya. Hanya saja pemilik kulit kering bakan lebih cepat terlihat keriputnya.

Masalah kulit mah sudah urusan kulit masing-masing, kita nggak usah ikut campur. 

Eh....gimana sik. Begitulah seputar pengalaman aku facial di Naavagreen Jl. Kusuma Negara Jogja. Kalau kamu gimana? Apakah ada kesan-kesan menarik selama facial? Share yak?

~MissAnt~


Thursday, 10 October 2019

Pentingnya ME TIME







 : Kamu mau ke mana?

: Nggak ke mana-mana.

: Lalu kenapa chatku nggak dibales?

: Ya kan bisa nanti-nanti balesnya.

: Emang kamu sibuk apa sih?

: Enggak sih, aku lagi “me time” aja.

: Yaelah kan “me time” juga sendirian, lalu apa susahnya bales?

Bagaimana menjelaskan pasa seseorang kalau kita juga butuh waktu untuk sediri. Sebenarnya sih, semua orang tentu punya waktu “me time” yang berbeda-beda. Dan, “me time” juga tidak selalu harus sendiri. Ada yang “me time” nya justru dengan seseroang karena itu memang cara dia “me time”.

Kalau aku pribadi selalu punya waktu untuk “me time”, di mana aku nggak mau diganggu siapapun. Bahkan jika ada chat masuk aja bisa aku abaikan pada waktu itu. Kenapa begitu? Ya karna itu tadi, lagi “me time”.

Lalu, sebenarnya apa sih enaknya “me time”?

Hm...gimana ya? Kadang banyak orang yang beranggapan kalau “me time” hanya untuk mereka yang cenderung Introvert. Bener nggak sih? Kalau kata orang sih, aku memang orangnya Introvert. Tapi tidak selalu suka berada di tempat yang sepi dan nggak banyak orang. Justru aku lebih suka berada di tempat yang ramai, meski itu hanya jalan sendiri. Jadi, gimana? Aku ini Introvert atau gimana? Karna aku juga nggak pandai menilai diri sendiri sih. Biar begini adanya. *Hallah

Eh....yang tadi belum terjawab ya? Tentang bagaimana enaknya “me time”. Kalau aku memanfaatkan “me time” biasanya dengan sendiri. Entah itu mau di tempat-tempat ramai maupun duduk di kafe hanya sekedar menikmati lagu dan melamun. Bagiku “me time” itu semacam recharge my mind. Jadi, dari situ aku bisa mikir mau gimanan dan mau gimana? Pokoknya dari “me time” kadang banyak hal yang ingin aku lakukan, salah satunya dapet ide baru. (Ya maklum, soalnya buat bahan konten blog) heheee.

Sudah terjawab belum, tentang pentingnya “me time”. Ya mungkin setiap orang punya cara “ me time” yang berbeda-beda, tapi setidaknya “me time” sangat penting sih, just according to me lho....

Bertemu dengan banyak orang bisa jadi menyenangkan jika orang-orangnya enak, tapi bisa jadi melelahkan kalau orangnya banyak drama dan bla...bla....bla...Tapi ya namanya orang banyak, pasti seleranya juga beda-beda. Nggak papa, bukankah perbedaan itu indah? Ye...kan?

Aku punya cara yang berbeda dalam menikmati “me time”. Setelah seharian bekerja, aku lebih suka jalan sendiri. Atau bisa juga diem di kamar sambil scroll-scrool sosial media, khususnya twitter. Mengapa “me time” larinya ke sosmed? Karena aku selalu follow orang-orang yang kontennya bagus. Tapi kadang yang follow akun-akun receh buat hiburan.

Kalau dulu pas masih ada Ibuku, aku tiap pulang ya ngobrol sama Ibu. Cerita ngalor ngidul. Semenjak Ibuku meninggal, aku jadi kesepian. Iya, rasanya ada yang hilang. Bingung setelah pulang mau ngapain. Akhirnya aku lebih suka rebahan saja tanpa diganggu. Lebih sering di kamar daripada harus ngobrol. Entah....kalau disuruh milih, suruh ngobrol dengerin orang ngegosip atau di rebahan di kamar, ya mending rebahan di kamar. Mau dibilang malas kumpul-kumpul? Silakan....menilai orang itu bebas....gratis....dan nggak bayar kok. So...do it.

Dengan menyempatkan waktu buat “me time”, paling tidak, kamu bisa merenungkan kalau segalanya nggak harus dipikir dengan berat. Kadang kita hanya butuh satu kata, yaitu “Yaudah lah ya”.

Tak perlu memikirkan penilaian orang tentang kita, karna semua berhak menilai. Coba sejenak saja renungkan, bahwa mereka juga punya pikiran, jadi bagaimanapun pemikiran orang tentang kita, abaikan saja. Kalau baik ya terima saja, kalau buruk ya jangan didengarkan. Kadang-kadang kita punya dua tangan yang sewaktu-waktu bisa kita pakai untuk menutup telinga saat kita lelah dan tak ingin mendengarnya.

As simple as that...

~MissAnt~

Monday, 30 September 2019

Skincare Paling Aman dan Simple ala Aku (No More Krim Dokter)




Kali ini aku mau ngomongin soal skincare. *Hallah....kayak tau banget soal skincare aja sih. Nggak papa. Namanya juga cewek, mau nggak mau kudu tau sedikit soal skincare. Yang mau aku bahas di sini emang beda dari serentetan skincare yang dibahas cewek-cewek beauty blogger pada umumnya karena aku hanya mau share tentang skincare yang  aku pakai setelah berhenti dari Naavagreen.

Aku dulunya pernah pakai yang namanya Naavagreen. Meski  nggak lama, tapi efeknya emang dapet bannget. Buat yang penasaran lagi mau pakai Naavagreen, silahkan membaca ulasan yang sudah aku buat seputarNaavagreen, siapa tahu berguna.

Sudah sebulan aku akhirnya berhenti buat nggak pakai Naavagreen. Bukan, bukan karena nggak cocok sih, tapi lebih ingin lepas dari cream dokter. Entah mengapa semakin ke sini aku semakin enggan pakai cream dokter karena hasilnya instan banget dan cepet banget perubahannya. Yang aku rasakan pas kurang lebih setahun setengah memakai Naavagreen adalah muka jadi kinclong, halus dan cerahnya nggak berlebihan.  I like it.

Tapi...tapiiii dan tapiiiii aku harus melupakannya. Laaah...kenapa kalau udah suka harsu melupakannya? Kan jelas-jelas suka? Lalu kenapa harus dilupakan? Kenapa? Kenapa? Hah.....LEBAY dah. Alasannya simple, KARNA NGGAK JODOH. Lah....malah curhat.

Okeee...okeee fokus.....

Jadiiiii....setelah memakai Naavagreen, sebelumnya aku udah nyobain banyak produk juga, sayangnya nggak cocok sampai pada akhirnya aku memilih balik lagi ke produk ini. Lalu siapa sebenarnya produk itu? And.....this is it......*AlaAlaFarahQuin

Viva Milk Cleanser Spirulina

Nah....ceritanya aku balik lagi ke produk yang aku pakai sebelum memakai Naavagreen. Di sini siapa sih yang nggak tau produk Viva? Pastinya tahu donk. Apalagi anak-anak jadul, pasti sahabat terbaiknya Viva. Kalau yang aku tahu, Viva yang dulu hanya ada 1 varian saja. Tapi sekarang udah ada banyak, ada yang kandungannya bengkoang, sari mentimun, dan Spirulina.

Kebetulan aku pakai yang Spirulina karena memiliki kandungan ganggang biru laut. Ini cocok banget sama jenis kulit kering kayak aku. Sebenarnya jenis kulitku ada dua sih, kadang bisa masuk kering banget dan bisa cenderung ke sensitif. Semua tergantung sikon. Kalaau pakai Viva ini aku cocok banget.

Oiya, jenis kulit wajahku ini juga susah nemuin pembersih yang pas. Sebenere pingin cari yang simple sekali usap, ternyata malah nggak cocok. Viva susu perbersih ini juga mampu memberishkan kotoran serta sisa-sisa make up (Bagi yang kesehariannya pakai make up tebel).

Viva Face Tonic Spirulina

Memakai pembersih saja ternyata nggak cukup, harus pakai Face Tonic untuk memaksimalkan dalam mengangkat kotoran. Toner dari viva ini juga sangat ringan dan nggak bikin kulit kering. Yang terjadi justru kulit wajah tampak lebih lembab. Ini cocok banget buat aku yang kulitnya kering.

Aku memang udah cocok banget sama pembersih viva. Ya kadang bosan juga sih,  pernah kepikiran buat ganti pembersih yang hanya satu langkah aja biar cepet. Tapi yang terjadi justru nggak cocok dan muka malah kusam banget. Ya meski banyak dikatain wajah murahan karena pakai Viva, but I dont care. Buat apa beli produk yang mahal kalau ujung-ujungnya nggak cocok? Ye kan? 

Lagipula jenis kulitku juga lebih ke kering sensitif, jadi harus pilih-pilih kayak nyari jodoh. #Uhuk....

Oiya, kalau aku pakai pembersih Viva biasanya setiap hari di malam hari sebelum tidur. Sebenarnya sih, ada juga yang pakai pagi hari sebelum pakai make up. Tapi kalau pagi kan aku suka buru-buru, jadi ya sehari sekali aja udah cukup kalau buat aku.

Nivea Soft

Tak hanya mengandalkan pembersih, kulit wajah juga butuh pelembab agar nggak kering apalagi kalau kulitnya cenderung kering, maka jangan sekali-sekali melupakan yang namanya pelembab. Kalau aku, pelembab yang cocok adalah Nivea Soft. Nah....kalian tentunya nggak asing dengan produk ini kan?  Aku bahkan pernah pakai produk ini pas SMA lho....

Yang aku suka dari Nivea Soft ini adalah teksturnya yang nggak terlalu kental dan nggak terlalu cair, jadinya pas buat kulit kering. Pas dipakai juga cepet banget meresapnya. Pokoknya cocock banget buat kulit kering.

Aku kalau udah cocok pakai produk, suka sulit banget buat berpaling. Sama kayak kalau udah suka sama kamu, ya tetep kamu, sulit banget buat nyari yang lain. Sayangnya kita malah nggak jodoh. Yaudah 
deh....*NyelipinCurhatBolehLahYaaa

Kalau menurutku sih, Nivea Soft ini udah bagus banget tapi belum ada kandungan SPFnya. Sangat rawan jika dipakai untuk beraktifitas di luar ruangan. Kalau aktifitasnya di dalam ruangan sih masih okelah ya.

Ngomongin soal SPF, aku jadi tertarik buat buat nyobain Skin Aqua. Yang mau aku cobain ini yang SPFnya 25. Pokoknya yang warna Pink. Berdasarkan ulasan dari pada beauty blogger, yang cocok buat kulit kering atau sensitif adalah yang SPFnya 25 warna pink. Cocok dan enggaknya di kulit aku, bakalan aku review kalau udah aku coba yak. Jadiii.....tunggu aja. Tetep pantengin blog aku yak. Hahaha.....udah kayak beauty blogger populer belom?

~MissAnt~



10 Keunggulan dan Kekurangan Memakai All New Honda PCX 150




Sesekali ngomongin si Bagongku yang semog


Kali ini aku pertama kalinya mengulas tentang motor. Kalau kebanyakan cewek biasanya lebih suka mengulas tentang make up dan alat kecantikan lainnya, tapi aku mau nyoba review tentang Honda PCX. All new honda PCX ini memang tergolong motor baru yang desainnya lebih modern sehingga digemari oleh semua kalangan.

Kalau aku lihat sih, banyak orang yang seringkali memakai motor terbaru agar terlihat "WAH" saat berkendara di jalan. Tapi di sisi lain memang menyukai desain honda PCX yang terlihat gagah saat dipakai.

PT Astra Honda Motor (AHM) kini memperkenalkan All New Honda PCX 150 produksi Indonesia dengan pilihan dua tipe, yaitu ABS dan CBS. Tapi aku sendiri nggak tau tipe Honda PCX yang aku pakai. Pokoknya yang tombol remotnya ada 3, yaitu terdiri dari Alarm, pengatur volume dan tombol untuk menyalakan dan mematikan. Kalau dulu aku pernah sekilas baca, remot PCX ada dua jenis, yaitu yang isi 2 dan yang isi 3. Untuk mengetahui perbedaannya, silakan gugling sendiri yak...heheee...

Setiap orang tentu punya keinginan memiliki motor idaman. Iya nggak? Kalau aku kemarin dapet PCX sebenarnya dapet rejeki nomplok. Nggak percaya? Silakan baca ini. Di sini aku sudah jelaskan semuanya.

Oke, kali ini aku mau ngomongin soal motor. *Wueeeeee....Eh Tapi emang nggak tau banget sih, berhubung lagi pakai PCX, jadi aku pingin review aja. Setiap motor tentunya punya keunggulan dan kelemahan, begitu juga dengan honda "body guede"  yang aku pakai ini.

Ini aku bikin review berdasarkan yang aku pakai lho ya. Jadi, aku pakai honda PCX sejak bulan April 2019. Tentunya selama bulan itu hingga sekarang aku bisa ngrerasain plus minusnya donk.

Oke deh langsung aja. Di sini aku mau ngebahas tentang keunggulan dan kelemahan memakai honda PCX

Keunggulan memakai New Honda PCX 150

1.Ada jamnya.




Kalau menurutku, motor ini cukup keren sih. Soalnya ada jamnya di bagian speedometer. Jadi bakalan bikin kamu jadi orang yang nggak telat. Eh tapi sama aja ding, kalau dari sononya udah susah ontime, mau pake jam di motor juga tetep ngaret.

2.Bodynya gede dan mantab.

Oke, pas pertama nyobain honda PCX, kesannya kayak guede banget. Tau nggak, rasanya kayak lagi mengendarai becak. Hahaha.....serius ini. Awalnya aku mikir ini kok susah banget kalau mau belok. Pokoknya harus memastikan kalau depan tu nggak ada yang ditabrak. Hahaha...lebay sih. Tapi itu yang aku rasain saat pertama nyobain.

Tapi setelah  lama kelamaan dan terbiasa, rasanya jadi leboh mantab. Berasa gagah banget pas naik. Ya emang sih, berat kalau pas majuin atau mundurin di parkiran. Tapi kalau udah jalan enak. Berasa manteb banget.

Mungkin kalau yang berkendara orang gede, jadi nggak berat banget. Mungkin ini motor sebenere ditujukan buat orang gede-gede. Wah....kalau begitu aku harus menggemukan badan. #Eh...

3.Irit.

Aku kira pake matic bakalan boros, eh nggak taunya PCX ini irit banget. Sebelumnya emang aku pake Honda Supra X keluaran 2005. Dan ketika aku ngerasa nggak ada bedanya. Ini jujur sih aku nggak dibayar buat ngomong ini  (Elah dah....sok selebgram).

4.Terlihat gagah saat berkendara.

Mungkin karna bodynya yang besar, jadi siapapun yang memakainya akan terlihat sangat gagah. Bahkan aku yang badannya kecil aja bisa keliatan gagah kalau pas berkendara. Tapi kalau udah turun ya rasanya kayak bawa gerobak. Apalagi kalau udah berhenti di Indomaret, kalau pas penuh ya mundurin motornya harus aku dorong. Hehe...saking gedenya.

5. Terdapat kantung depan pada bagian kiri yang lebih aman.




Kalau aku pribadi ya, setelah memakai Honda Supra X dan kemudian ganti memakai Honda PCX, tentu banyak sekali perbedaannya. Salah satunya adalah adanya kantong bagian depan atau yang biasa disebut Konsol Boks.  Ini bisa dipakai untuk meletakkan tempat minum. Kalau biasanya hanya digantungin di cantolan, tapi kalau honda PCX sudah ada kantong untung meletakan tempat minum. Konsol Boks ini juga ada penutupnya sehingga lebih aman tanpa kena air (Khususnya saat musim hujan).

Sebenarnya, pas aku pakai pertama kali, mekaniknya bilang begini, "Mbak, tempat ini (Kantong yang terletak di depan bagian kiri) bisa dipakai buat meletakkan remote". Tapi ya kalau menurutku, kalau remote diletakkan di situ, takutnya lupa dan malah bahaya. Jadi remotenya aku simpan di tas aja.

6.Dilengkapi dengan lampu Hazard.

Nah....keren nih. Udah kek mobil ada lampu Hazardnya. Awalnya emang hanya pencet-pencet doang pas pakai. Eh ternyata ada lampu Hazardnya. Keren yak. Untungnya nggak aku pakai buat mainan. Secara aku suka nggak sadar pencet-pencet tombol kalau di lampu merah yang kelamaan.

7.Ada Notifikasi kapan buat ganti oli.

Seperti motor baru pada umumnya, servis pertama kali pasti akan dilakukan saat sudah mencapai 1000 KM. Dan yang bikin aku kaget adalah, ketika sudah sampai 1000 KM, maka akan ada pemberitahuan "Oli Charge" pada bagian speedometer. Ini sangat berguna banget buat aku. Biar bisa tahu kapan harus ganti oli agar nggak kelamaan.  Emang deh, keren banget PCX ini.

8.Bagasi yang luas.

Bagasi di Honda PCX bisa dipakai buat memelihara ikan nih. Bisa dibikin aquarium. Hehehee.....seriusan deh. Bagasinya luas banget.  Mencapai 25 liter nih. Kamu bisa mandiin kucing di situ. Hahaha

Honda PCX memang patut dijuluki motor paling keren. Liat aja, bagasinya udah kayak mobil. Apa aja bisa masuk, helm masuk, tas masuk, cucian londri yang udah numpuk juga masuk, kenangan mantan juga bisa kamu simpan di sini. Hahaha....

Yang jelas, bagasinya luas. Cocok buat Touring . Kalau udah gini tak perlu bawa koper, wong koper aja udah dimasukin ke bagasi. Elah dah lebay.

9.Satu tombol yang mulitifungsi.




Dengan New Honda PCX, kita bisa mengendalikan satu tombol untuk semua. Satu tombol bisa dipakai buat membuka jok dan buka tempat bensin. 

Sementara tombol sebelahnya bisa dipakai untuk menyalakan dan mematikan serta mengunci stang. Keren kan, nggak perlu bolak-balik nyari tombol buat membuka karena sudah otomatis.

10.Letak Accu yang lebih aman.

Yang berbeda dari Honda PCX ini, letak Accunya ternyata ada di dalam. Lebih tepatnya di bagian bagasi. aku rasa cukup aman agar nggak kena air kalau berubah jadi Jetsky, eh maksudnya kalau pas ujan. Hehehe....

Peletakan di dalam dan lebih aman juga menghindari supaya nggak mlepeg kalau pas jalan di tempat banjir. Pokoknya keren banget ini motor. Meski kegedean kalau tak pake, tapi bikin aku sukak.


Kelemahan memilih New Honda PCX 150

1. Berat.

Ya kalau yang bawa aku ya rasanya berat banget. Oiya, berat New Honda PCX ini ternyata 133 kg (C.M.I.I.W). Sementara itu beratku saat ini hanyalah 53-54 kg. Bisa bayangin kan aku bawa beban berat dan menyenangkan. Hehehe....

Tapi kalau udah dinaikin ya enak. Terasa ringan gitu. Yang susah adalah ketika di lampu merah, kaki rasanya susah nginjek aspal. Hahaha....pendek amat dah.

2.Remote yang kadang mejen.

Mejen tau nggak? Mejen adalah keadaan di mana tombol starter susah dipencet. Nggak tau ini masalahnya dari remote atau emang tombol starternya. Kalau pas aku coba sebenere remotenya biasa aja. Maksudnya, ya nyala ijo tapi pas aku nyalain starternya nggak bisa.

Nah, pas waktunya servis itu, aku tanyakan pada mekanik. Dia malah jawabnya, "Nggak ada masalah apa-apa mbak remotenya. Ini kami cek juga nggak papa kok". Lah....kenapa waktu itu mejen? Ya mungkin emang lagi nggodain aku aja kali ya. Biar panik. Hadeeh....berat tau dorongnya.

3.Remote yang rawan hilang.

Mungkin remote lebih aman, tapi kalau menurutku rawan juga sih. Remotenya kan mau nggak mau harus kita simpan saat berkendara, nah aku tu takutnya jatuh gitu. Emang agak lebay sih kalau mikir ginian, soalnya kan kalau ilang jadi berabe. Dan setelaah aku gugling ya, kalau remote ilang kita bisa beli dengan harga 1 jutaan. Gila nggak tuh. Jadi harus pandai-pandai menyimpannya. Aku aja kalau pas berangkat suka memastikan apakah tempat remote sudah tertutip rapat atau belom.

4.Tidak dilengkapi selah.

Selah tau kan yak? Yang kalau starter mati trus kita genjot itu lho. Honda PCX ternyata tidak ada selahnya. Jadi kita harus menjaga ACCU supaya aman. Rajin servis supaya tahu keadaan ACCU. Yang jelas, sejauh ini ACCU aman sih, soalnya dilihat dari letaknya juga di area jok. Pokoknya harus rajin servis, ganti oli dan cek ACCU supaya tetap aman.

5. Jok belakang yang sempit dan tidak ada pegangan.

Kalau menurutku nih ya, Honda PCX ini udah keren, sayangnya jok belakang masih sempit dan nggak ada pegangan. Aku pernah bonceng adikku pakai PCX, ternyata emang sempit. Kalau pakainya ngebut, yang bonceng harus ati-ati aja karena nggak ada pegangannya, kecuali kamu pegangan yang bonceng.

Sebenarnya ada sih, slot dikit samping jok yang bisa kamu pakai buat pegangan, tapi ya kurang nyaman aja menurutku. Bodynya gede sih, tapi jok belakangnya sempit dan ada space antara depan dan belakang. Jadi kalau terlalu maju bisa njomplang.

6.Kurang gesit saat dipakai.

Buat kamu yang memakai Honda PCX di kota yang macet, sepertinya ini kurang cocok karena larinya kirang gesit. Dengan bodynya yang gede, tentu saja bikin kamu susah buat nyempil-nyempil. Sebenere bisa aja sih nyempil-nyempil, tapi ya spion kamu yang jadi korban.

7.Harganya yang mahal.

Iya sih, kalau aku sendiri mungkin akan pikir dua kali buat beli Honda PCX 150. Ya namanya rejeki nggak ada yang tahu. Banyak yang bilang begini, "Lah daripada beli PCX mending beli mobil second". Hahaha....mon maap ini rejeki Alloh yang kasih. Saya mah bersykur aja.

Kalau dilihat dari harganya ternyata mahal. Ya sekitar 32 jutaan gitu. Aku gugling sih antara segitu untuk yang ABS. Tapi kalau dilihat dari segi keunggulannya memang pantas dibanderol harga yang mahal. Semua tergantung dari kita, kalau mau motor yang keren dan banyak keunggulannya ya harus siap-siap ngeluarin duit banyak.

Oke, kira-kira begitulah review dari aku untuk Honda PCX 150 yang udah aku pakai sejak April 2019. Pasti akan beda lagi kalau  yang pakai orang lain karena semua punya ulasan yang beda-beda mengenai barang yang sudah dipakai.
Buat kalian yang juga pakai Honda PCX 150, kira-kira apa aja kekurangan dan kelebihan selama dipakai? Boleh donk share ke kolom komentar. Biar saling tempe....eh tahu...

~MissAnt~

Thursday, 26 September 2019

5 Manfaat Yang Kamu Dapat Dari Naik Gunung





Dengan membaca dari judulnya, jangan pernah mengira kalau aku udah naik gunung yang tinggi banget ya? Sebenarnya aku Cuma naik gunung api purba yang ada di Nglangeran itu kok. Meski hanya berketinggian 700 mdpl (C.M.I.I.W), tapi berasa udah seperti naik gunung yang tinggi buanget. Oke, aku lebay. Nggak papa, mending lebay daripada drama. #Uhuk...

Baiklah, dengan naik gunung kemaren, banyak pelajaran yang aku dapat. Sebenarnya udah lama banget pingin naik gunung. Kata temanku, naik gunung harus punya persiapan yang matang. Nggak hanya asal-asalan. Ya paling enggak, lari-lari gitu udah termasuk pemanasan kok. Sayangnya aku kemaren mengabaikan pemanasan itu. Nggak pernah olahraga, nggak pernah lari-lari (pernah sekali tapi ngos-ngosan banget) , tiba-tiba naik gunung. Ugh....berasa banget rasanya. Malu sama diri sendiri. Ternyata aku selemah ini.

Kenapa aku ngebet banget pingin naik gunung? Karena pemandangan pasti bagus banget. Seo;ah lebih dekat dengan awan dan menikmati birunya langit, belom lagi nanti kalau ada senja. Uwuwuwuu...pasti cakep banget deh. Tapi semua itu nggak bisa dilihat tanpa kita harus bersusah payah dulu, yaitu mendaki. Jangan pikir mendaki itu gampang ya? Eh tapi kalau udah biasa emang gampang kayaknya. Beda sama yang baru pertama kali kayak aku.

Ngomongin soal naik gunung, aku jadi mendapatkan banyak pelajaran nih. Ciee elahh....Setiap jalan kehidupan memang selalu memberikan pelajaran bagu kita semua. Walau hanya gunung yang tidak terlalu tinggi, tapi aku mampu merenungkan beberapa hal, antara lain;

1.Lebih banyak bersyukur.

Iya bersyukur masih bisa diberi kesempatan bisa melihat indahnya semesta. Mungkin aku lebay. Tapi ya namanya baru pertama kali naik gunung dan bisa melihat pemandangan dari atas, rasanya beda banget. Pokoknya bersyukur banget bisa melihat ciptaanNYA dari ketinggian 700 mdpl.

2.Jangan menyepelekan hal kecil.

Sebelum naik gunung, ada teman yang mengingatkan, sebaiknya pemanasan dulu sebelum naik gunung, tapi aku mengabaikannya. Dan akhirnya setengah jalan rasanya mau semaput. Hahaha....kalau inget rasanya malu sama diri sendiri. Kadang hal kecil yang kita sepelekan bisa sangat berpengaruh. Iya kan, ngeyel banget akutu. Kalau tau naiknya SUPER SEKALI, aku bakalan lari-lari tiap pagi.

Kadang kita belum paham banget sebelum kita merasakannya sendiri. Ya sama seperti ketika orang bilang, “Udahlah....yang sabar, Ibu kamu udah tenang di sana”. Mungkin mereka belum tahu rasanya ditinggal Ibu. Oke aku jadi baper.
Yang jelas, jangan pernah menyepelekkan hal kecil. Kalau hal kecil aja udah kamu anggap remeh, gimana nanti kalau dapet yang besar. 

Hayoloh.....semangat...semangat olahraga.

3.Lebih menghargai sesama makhluk lain.

Kalau biasanya aku suka ngusir semu yang suka jalan-jalan di kamar kost, tapi pas ndlosor kecapean, aku jadi mikir, ini kan semut juga hewan yang perlu jalan-jalan. Jadi biarkan saja, toh mereka sebenarnya nggak menganggu kita. Hanya saja kita yang risih.

Dari pas aku dlosoran karena lelah, aku liat kanan kiri sampai nunduk ke bawah dan banyak semut lagi jalan-jalan, tapi aku biarin aja. Karena mereka juga nggak nggremet di kaku. Selain itu aku juga ketemu sama lebah. Pas temen bilang, “Nanti dulu ada lebah”, itu aku mikirnya udah macem-macem. Jangan-jangan ini lebah hutan bakalan ngeroyok neeeh.....Hahaaaa....emang suka lebay akutu.

4.Lebih bisa mengalah dengan sesama makhluk hidup.

Temenku bilang, “Nanti dulu, tunggu sebentar. Kita yang ganggu mereka. Jadi kita harus berhenti dulu. Toh ini kawasan mereka, kita yang berkunjung ke mereka”. Iya benar juga ya, jalan menuju ke puncak gunung api purba kan berliku-liku dan harus menyelusuri bukit, jadi wajar kalau banyak lebah toh itu rumah mereka. Kita yang sedang berkunjung, jadi ya kita harus mengalah dengan berhenti sejenak. Membiarkan mereka menyingkir dan memberi jalan untuk kita.

Lalu kenapa tidak diusir? Sekarang gini, kita datang ke gunung kan untuk menyatu dengan alam sekitar dan makhluk yang ada di sana, jadi ya kita harus mengalah karna itu kawasan mereka. Aku juga pas jalan sempet denger krusak-krusek dan aku mikirnya itu ular. Tapi aku stay cool aja biar aman, toh itu kawasan mereka. Selama niat kita baik dan tidak mengganggu, maka mereka tidak akan menganggu kita. Simple kan?

5.Lebih mudah menerima keadaan.



Iya nggak sih? Buat kalian yang udah naik gunung yang tinggi, apakah kalian pernah merenung kalau segalanya akan baik-baik saja kalau kita bisa lebih mudah menerima keadaan. Kalau aku pribadi sih, dari naik gunung, aku lebih bisa menerima keadaan.

Aku pribadi memang masih dalam tahap pemulihan. Bukan, aku nggak sakit kok. Hanya saja mentalku agak kurang santai. Kenapa? Karena aku baru kehilangan Ibuku Juli 2019 kemarin. Tentu tidak mudah bagiku. Amat sangat nggak mudah. Butuh waktu untuk pulih. Perasaan ini hanya bisa dirasakan oleh anak perempuan yang sudah sangat dekat dengan Ibunya, lalu harus merelakan Ibu pergi meninggalkan dunia ini. Dan aku hancur banget.

Tapi ada banyak pelajaran setelah aku mencoba untuk naik gunung, toh ini pertama kalinya aku naik gunung meski tidak tergolong tinggi. Dan aku sangat menikmatinya. Sebenarnya udah lama janjian sama temen. Bahkan sejak Ibu masih ada, aku pernah bilang kalau pingin banget naik gunung.





Dalam lelahku saat menuju ke puncak, aku sempat termenung sejenak. Aku nikmati pemandangan sekitar. Aku lihat kanan kiriku. Aku rasakan desiran angin yang panas. Dedaunan yang kering dan mereka tetap bisa bertahan karena memang itu takdirnya. Dedaunan kering tak pernah menyalahkan kemarau berkepanjangan. Mungkin memang sudah harus seperti itu.

Semua yang terjadi memang sudah jalannya begitu. Tidak ada orang yang baik-baik saja ketika ditinggal oleh orang terkasih, terutama seorang Ibu. Yang harus dilakukan adalah dengan berdamai dengan keadaan karena memang ya seperti inilah.

6.Lebih menghargai apa yang sudah kita capai.

Yang namanya manusia, pasti tidak pernah puas dengan apa yang sudah dicapai. Aku sih nggak munafik karena aku juga begitu. Sudah punya ini tapi tetep aja pingin itu. Wajar sih. Semua orang butuh kepuasan. Tapi setidaknya tahu batasan.

Pas nyampai di puncak gunung api purba, rasanya aku bangga banget sama diriku. Ya bukan bangga yang membangga-banggakan diri banget sih. Intinya lebih bangga karna sebuah pencapaian. Lalu aku lihat sekitar. Berasa aku sudah naik gunung yang paling tinggi karna bisa melihat semuanya dari atas. 

Tapi...tapiii dan tapi....semua itu hanya sebuah pencapaian kecilku saja. Masih banyak gunung tinggi yang pastinya pemandangannya lebih indah. Aku baru kayak gini aja udah seneng banget.

Lantas apa ini sebuah kebanggan terhadap diri sendiri? Iya. Tapi ini bukan bangga yang kesannya sombong. Ada kalanya kita harus mengargai apa yang sudah kita capai. Seperti halnya masalah pendapatan, seringkali kita mengeluh karena gajinya kurang, tanggal segini sudah habislah inilah...itulah. Oke, sesekali saja coba renungkan. Kita sudah bekerja dengan apa yang kita mau, hargai apa yang sudah kita capai. Kalau kamu tidak bisa menghargai apa yang kamu capai, dari mana kamu bahagia?

Jika kita melihat ke bawah, masih banyak orang yang lebih kekurangan dari yang kita keluhkan. Jadi,adalah penting ketika kita bisa menghargai apa yang sudah kita capai. Jadi, orang yang tidak bisa menghargai pencapaian orang lain, sudah bisa dipastikan kalau mereka juga tidak bisa menghargai pencapaiannya sendiri. Note this!!

Gimana? Kok aku tumben bijak yak? Efek naik gunung kali. Semakin tinggi gunung yang kamu  daki, maka kamu akan semakin bijak dan rendah hati, kataya begitu.Semoga bisa seperti itu.

Kira-kira ada lagi nggak? Kalau kalian punya pengalaman tentang naik gunung, bisa dishare di kolom komentar donk, supaya kita tahu banyak pelajaran dari setiap perjalanan.


~MissAnt~