Wednesday, 3 May 2017

Dampak Psikologis dari Teman Tapi Settingan

Eh pin bb lo berapa?”
“IG lo namanya apaan”
*PuraPuraNgedeketinBuatKepoSemata*
*NanyaKabarCumaAdaMaunyaDaong*
*Bye

Nggak Cuma artis-artis saja yang hobi main setting-settingan. Dalam hubungan pertemanan juga banyak ditemukan. Hanya saja kurang peka. Eh...tapi kurang peka sama rada bego bedanya tipis banget. Seringkali kita emang gampang banget dibikin bego mendadak sama mulut manis seorang teman yang sebenarnya adalah penjilat yang berbahaya.

Oneng adalah seorang gadis ceria yang baik hati. Bahkan ia sangat sayang sama teman-temannya. Rajin bikinin PR, rajin beliin pulsa, pokoknya baik banget. Oneng menganggap semua orang itu baik. Ia juga punya hati yang lemah, iya lemah terhadap kata-kata ((((sok))) manis teman. Lagipula Oneng termasuk anak yang nggak tegaan. Walaupun direndahin teman kayak apa, ia masih nggak tega kalau nolak temen yang butuh bantuan. Yah...memang kalau punya hati “lemah” seringkali malah sering dianggap remeh. Si Oneng punya punya prinsip hidup yang luar biasa, yaitu “Biralah orang berbuat jahat sama kita, karna nanti Tuhan yang akan menilai perilaku kita, perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan”. Begitulah kata-kata yang sering keluar dari mulutnya.

Yah...memang sih, adakalanya kita cuek sama orang yang jahatin kita dan anggep aja baik-baik. Tapi kalau lama kelamaan cuek, bisa-bisa orang-orang juga seenaknya sama kita. Bukannya kita mau balas dendam dengan tidak memperdulikan mereka lagi, tapi lebih tepatnya demi kebaikan diri sendiri.
Si Oneng yang sudah berkali-kali menjalani pertemanan dan menganggapnya sebagai sahabat pun kini juga sadar. Bahwa apa yang kita rasakan, belum tentu dirasakan oleh orang lain. Si Oneng yang sudah menganggap Dodol sebagai teman baikpun akhirnya juga memutuskan untuk “pergi”. Dua orang yang menjalin persahabatan nantinya hanya akan rusak karena materi. Iya, materi kadang memang menjadi perusak hubungan.

Si Oneng memang bukan orang yang punya banyak uang namun ia bersyukur karena kehidupannya tergolong berkecukupan. Berbeda dengan si Dodol yang dulunya hidup berkecukupan hingga ia mendadak jadi “orang kaya baru” dan lupa sama si Oneng yang selalu ada saat ia masih dalam proses “merangkak”, giliran sudah berada diatas malah dilupakan. Bahkan si Dodol juga berubah menjadi orang yang semena-mena dengan orang lain, hanya karena sekarang ini ia lebih menggandalkan uang. Jadi, segala sesuatunya akan dibikin lancar karena percaya, uang bisa bicara.

Well...Si Oneng semakain menyadari bahwa wajah yang rupawan bisa mendadak terlihat buruk lantaran perilaku yang sama sekali berbeda dengan kecantikan wajah Dodol. Hal ini memang benar adanya. Wajah cantik, rupawan dan cerdas bisa mendadak buruk karena satu perilaku yang selalu meremehkan. Dodol memang tergolong orang yang pandai “bermuka manis” walaupun dibaliknya selalu ada maksud yang tersembunyi. Lebih tepatnya mendekat ketika butuh, setelah urusan selesai, BYE.

Oneng yang selalu punya sifat nggak tegaan akhirnya jadi orang yang masa bodoh. Lucu ya, orang yang baik bisa jadi jahat gara-gara perlakuan yang tidak menyenangkan dari teman. Ternyata hal sepele bisa berdampak pada psikologis Oneng. Dia bahkan trauma menjalin hubungan baik dengan seorang teman. Walau sebelumnya ia lupa dan berteman baik dengan Gemblung yang pada akhirnya juga sama dengan Dodol, lupa kerena materi. Susah kalau ketemu temen yang modelnya begitu. Yang lebih parahnya lagi, Oneng menjadi orang yang enggan membuka pertemanan lebih dekat dengan teman yang ia kenal. Kasihan juga kalau teman barunya benar-benar tulus dan ingin menjalin persahabatan. Nggak  nyangka, dampaknya bisa parah banget. Makanya, berteman itu yang tulus. Tapi emang kadang kita bego banget, nggak bisa ngebedain mana yang tulus dan mana yang settingan.












0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts