Monday, 25 April 2016

My lepi, my henpon is my everything. . .







Kaulah segalanya, lepiku. Kenapa aku bilang segalanya pada mereka? Iya aku ngga salah untuk menjadikannya segalanya untukku. Kenapa harus lepi dan henpon yang jadi segalanya? Emang kamu ngga punya temen? Nah…demikianlah pertanyaan yang muncul. Teman sih banyak, tapi nyari yang  tetap bertahan memang sulit. Kadang yang kita anggap baik memang belum tentu baik. Aku ngga pernah sembarangan menilai orang. Setiap kenal dengan orang baru, yang aku inginkan hanyalah saling mengenal dan dia orangnya baik. Ngga mungkin donk, kesan pertama udah berani menilai bahwa seseorang tersebut tidak baik. Kebanyakan orang menilai seseorang dari pertemuan pertama. Tapi hal ini tak berlaku buat aku. Menilai orang yang benar adalah setelah kita kenal dengan orang tersebut, penilaianku terhadap orang yang pertama kali kenal adalah semuanya baik. Itu aja sih.
Okay, kembali ke leptop. Yappp, my lepi is my everything. Ada saatnya seorang teman berubah dan tak seperti yang kita kenal. Kalau uah kayak gini, mau bagaimanapun tetap saja ngga seperti dulu lagi. Kadang seseorang berubah tanpa ada alasan. Yang tadinya gini bisa jadi gitu. Walaupun kita tidak terima dengan perubahan seseorang, tapi ya mau gimana lagi. Kita ngga mungkin tanya tanya, “eh kamu kok gini sih sekarang? Kenapa? Kenapa? Kenapa??” Mau teriak teriak dan nanya berulang kali juga jawabannya tetep sama, “ngga papa kok, berubah gimana sih”. Yasudahlah. Kalau mereka bisa begitu, kenapa aku ngga bisa gitu juga ? #ThinkingOutLoud.
Pernah baca sekilas tulisan pendek semacam tweet bunyinya begini, “Orang kadang kabur ke dunia maya Karena muak dengan dunia nyata”. Hmm,, kata kata ini ada baiknya juga sih. Dunia maya emang asyik banget, tapi asal bisa memanfaatkan dengan baik lho. Misalnya saja, saat kamu ngga ada seseorang buat menumpahkan segalanya, maka kamu bisa nulis dan kamu posting di blog atau dimanapun. Sekarang teknologi juga makin canggih, seseorang bisa berjam jam memandangi gadgetnya dan lupa dengan dunia nyata. Walaupun kadang dunia nyata itu membosankan, tapi ingat donk, kita hidup di dunia nyata woyy!!
Aku memang munafik banget, iya jujur nih. Dulu aku sempat kesel banget, kenapa oang orang segitunya cuek sama dunia nyata saat udah menunduk kearah gadget masing masing. Sepertinya egois banget. Lupa dengan sekitar. Paling banyak yang aku menemui hal semacam ini di kota kota besar, terutama Jakarta. Sempet dapet Job di Jakarta dan kebanyakan penduduknya seperti sudah terikat sekali dengan gadgetnya. Dulu aku heran, bisa gitu banget ya mereka kecanduan gadget. Nah…sekarang aku juga kecanduan hal semacam itu dan ternyata asyik juga. #HadeeehGimanaInih. Tapi aku kabur ke dunia maya hanya untuk bersenang senang kok. Ada benarnya juga sih, kita seringkali lari kedunia maya karena kita merasa suntuk di Dunia yang sebenarnya.
Sejak saat itu aku sudah memutuskan kalau aku lebih baik kehilangan teman yang berubah entah karena hal apa dari pada harus jauh jauh dari lepi. Kenapa harus pusing mikirin orang yag berubah dan menjauh dari kita? Biarlah saja, kalau mereka memang mau nyari yang lebih dari yang bisa kita lakukan, Ya sokk atuh. Ngga papa, masih ada lepi untuk mencurahkan semuanya. Meskipun benda mati, tapi ini bisa menjadi saksi semuanya. Kita bicara tak harus dengan seseorang kok, mungkin bisa dengan benda mati seperti tembok. “Gila ya? Ngga kok, ini ngga gila”. Ini lebih baik dari pada kamu ngomong sama mahkluk yang bisa bicara tapi tak memahaminya dan bisa berubah kapanpun.
Tulisan ini untuk seorang teman yang selalu berubah kapanpun tanpa alasan yang jelas. Mungkin saja bosa dengan kita, atau mau nyari yang lebih dari kita. Antara yang bikin nyaman dengan yang lebih baru memang beda. Perbedaanya hanya kamu sendiri yang dapat merasakannya. Terima kasih telah menjadi teman yang mudah sekali berubah.
Dan selamat datang teman baruku, lepiku, henponku. Kaulah segalanya. Tanpamu aku tak bisa berkarya. #Hasyeekkkk.