Thursday, 3 August 2017

Aku Lebih Merindukan Secangkir Kopi


Kamu tak perlu menyebutku aneh karena Aku lebih merindukan secangkir kopi. Kenapa? Aku punya banyak alasan kenapa kopi tak pernah menghianati. Beda dengan kamu. Yang penuh dengan penghianatan. Kopi memang tak semanis kamu, tapi pahitnya bisa membuatku selalu merindukannya.
Bahkan kopi lebih bisa membuatku kecanduan. Sehari saja Aku tidak menikmatinya, Aku seperti hampir gila. Tak seperti kamu. Meski aku tak melihatmu sehari saja, sudah biasa. Meski senyummu sekilas menyambar bagai petir di siang bolong. Tapi Aku bisa mengabaikannya. Mungkin Kamu sudah tak semenarik secangkir kopi pahit yang selalu menemaniku setiap hari.
Pernahkah kamu mendapatkan penghianatan dari secangkir kopi? Pernahkah kamu dikhianati seorang kekasih? Pernahkan kamu menjadi korban pengkhianatan seorang teman? Lalu, siapa yang paling setia? Bukankah hanya secangkir kopi. Meski pahit, hitam, kotor tapi selalu setia dan memberi pelajaran tentang arti hidup.
Hati yang terkhianati merupakan kesalahan mata yang sangat lemah. Bagaimana tak lemah? Kalau ia terlalu cepat tertarik dengan hal yang indah. Sementara tidak sedikitpun melirik rasa pahit dan ampas yang membekas dalam gelas namun memiliki kesetiaan yang luar biasa.
Aku tak pernah salah memilih kopi. Bagi mereka, kopi tidaklah menarik. Tapi Aku banyak belajar darinya. Karna yang hitam dan pahit tak selalu buruk. Buktinya, Aku lebih tertarik dengan secangkir kopi dari pada seorang penghianat bertopeng sepertimu.

~MissAnt~


2 comments:

Popular Posts